nfinity Blade adalah review kontribusi game pertamaku kepada VGI sekaligus salah satu tujuan utama saya membeli sebuah gadget dari Apple (karena Infinity Blade eksklusif untuk iOS, tidak hadir untuk Android). Rilis di akhir tahun 2010 game ini mampu mencelikkan mata banyak orang akan potensi dari game berbasis mobile yang sebenarnya. Infinity Blade tidak hanya hadir dengan grafik yang memukau karena developer Chair memakai engine Unreal, namun juga dipuji karena sistim kontrolnya tidak memaksakan untuk meniru gaya konsol - tetapi justru mengambil keuntungan dari kemampuan sistemtouch screen. Tentu tidak mengejutkan kalau sekuelnya mendapatkan banyak perhatian dan liputan pers. Infinity Blade II bahkan menjadi satu-satunya aplikasi game yang diberi waktu presentasi dalam Keynote dari Apple tempo hari. Kini Infinity Blade II telah dirilis, bisakah ia menandingi kualitas kakaknya?
Chair telah berulang kali menegaskan dalam presentasi game Infinity Blade II bahwa mereka akan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dari game pertamanya. Faktanya memang demikian. Saya tadinya sempat takut bahwa Infinity Blade II tidak akan lebih dari sekedar sebuah ekspansi atau upgrade semata: menambahkan wilayah-wilayah yang baru, equipment baru, musuh baru, lantas melabelinya Infinity Blade II. Tapi ternyata tidak, Chair melebihi ekspektasi saya dalam menggarap dan menyeriusi game ini.
Salah satu tambahan yang membuat saya senang adalah dimasukkannya unsur cerita dalam game ini. Dalam game sebelumnya kamu hanya seorang knight tak bernama yang mati dan mati dan mati dan mati dan... mati lagi sampai kamu cukup kuat mengalahkan God King. Walhasil game menjadi repetitif. Infinity Blade II menambahkan elemen cerita dalamnya. Karaktermu kali ini bernama Siris, sang hero dari game pertama akhirnya mendapatkan nama, yang telah mengalahkan God King dan mendapatkan Infinity Blade. Toh ini tidak berarti bahwa tugasnya berakhir. Siris menyadari bahwa sang God King masih hidup dan untuk benar-benar mengalahkannya Siris perlu menemukan Worker of Secrets, sang pencipta Infinity Blade. Dalam perjalanannya itu gamer juga akan mengungkap jati diri Siris dan kenapa ia berulang kali mati di game pertamanya. Saya akui bahwa jalan cerita game ini tetap tidak sebagus RPG lainnya kelas konsol yang durasinya puluhan jam tetapi ini menunjukkan bagaimana Chair serius ingin memberi gamer sebuah pengalaman tersendiri ketika menceburkan diri dalam game ini. Bahkan Siris kini tak lagi bisu dan bisa berbicara bahasa Inggris!







0 komentar:
Posting Komentar